Batam, 25 Agustus 2025 – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan Kepri–Wilayah Sumatera Bagian Utara akan menggelar aksi massa besar bertajuk “Indonesia Sold Out” pada Rabu, 27 Agustus 2025, di depan Kantor Wali Kota Batam dan DPRD Kota Batam. Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan wujud akumulasi kekecewaan mahasiswa terhadap buruknya tata kelola pemerintahan, lemahnya keberpihakan pada rakyat kecil, serta semakin meluasnya praktik kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan publik.
Aksi ini akan membawa 11 tuntutan strategis yang mencerminkan kegagalan pemerintah daerah maupun pusat dalam menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat, antara lain:
1. Persoalan Banjir yang setiap tahun menghantam warga Batam tanpa solusi struktural.
2. Sampah kota yang menumpuk, mencerminkan tata kelola lingkungan yang amburadul.
3. Kekacauan sistem parkir, yang lebih berorientasi pada pungutan daripada kenyamanan warga.
4. RKUHAP yang bermasalah, karena berpotensi melemahkan keadilan rakyat.
5. Represifitas aparat terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil.
6. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap hanya slogan politik tanpa implementasi nyata.
7. Nasib guru honorer yang masih terkatung-katung tanpa kepastian kesejahteraan.
8. Mafia pangan yang menjerat kebutuhan pokok masyarakat Batam, membuat harga pangan tidak terkendali.
9. Isu infrastruktur dan jam operasional truk kontainer serta dump truk yang merusak kenyamanan dan keselamatan lalu lintas warga.
10. Masalah agraria di Tanjung Uma, khususnya praktik penimbunan yang mengancam kampung tua Melayu.
11. Batam yang belum layak menjadi Kota Anak, karena minimnya ruang publik ramah anak serta lemahnya perlindungan terhadap generasi muda.
Kritik Tajam Terhadap Pemerintah
Dalam pernyataan resminya, Koordinator BEM SI Kerakyatan Wilayah Sumatera Bagian Utara, Muryadi Agus Priawan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat.
“Batam hari ini sedang sakit parah. Pemerintah daerah hanya sibuk menjual citra pembangunan, sementara rakyat terjebak dalam persoalan banjir, sampah, hingga mafia pangan. Indonesia seolah benar-benar ‘sold out’, dijual murah demi kepentingan kelompok tertentu. Kami hadir untuk menggugat, karena mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat,” tegas Muryadi.
Senada dengan itu, Koordinator Daerah BEM SI Kerakyatan Kepri, Alexander Manurung, menambahkan bahwa aksi ini juga menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa dalam menolak praktik politik transaksional yang menggadaikan masa depan rakyat Kepri.
“Kami tidak akan tinggal diam melihat Batam dijadikan kota dagang tanpa arah, di mana rakyat hanya menjadi penonton. Dari masalah agraria di Tanjung Uma hingga persoalan guru honorer, semua menunjukkan bahwa pemerintah gagal menghadirkan keadilan sosial. Mahasiswa turun ke jalan bukan untuk kepentingan kelompok, tapi untuk menyuarakan jeritan rakyat yang selama ini diabaikan,” ungkap Alexander.
Tuntutan yang Tidak Bisa Ditawar
Aksi ini diharapkan menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah, bahwa persoalan rakyat tidak bisa ditutupi dengan pencitraan semata. BEM SI Kerakyatan menegaskan bahwa 11 tuntutan tersebut adalah harga mati, dan apabila tidak ditindaklanjuti, maka gelombang aksi lanjutan akan terus digencarkan.
Gerakan “Indonesia Sold Out” ini sekaligus menjadi refleksi atas semakin sempitnya ruang demokrasi, di mana mahasiswa dan rakyat kerap dibungkam dengan cara-cara represif. Namun, BEM SI Kerakyatan menegaskan akan terus konsisten berada di garda depan perjuangan rakyat.Melalui aksi ini, BEM SI Kerakyatan Kepri-Wilayah Sumatera Bagian Utara menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat sipil, buruh, nelayan, guru honorer, dan pemuda untuk bergabung dalam barisan perlawanan. Indonesia tidak boleh “sold out” di tangan penguasa yang abai, dan Batam tidak boleh terus dijadikan etalase kosong tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
BEM SI Kerakyatan Kepri–Wilayah Sumatera Bagian Utara menegaskan: “Ketika rakyat dibungkam, mahasiswa wajib bersuara!”