
Lamandau — Dinamika regenerasi kepemimpinan Senat Mahasiswa Politeknik Lamandau (SEMA Polilaman) memasuki fase krusial. Sebuah visual bertajuk “Who Will Be The Next?” menampilkan tiga siluet misterius yang menandai dimulainya pertarungan kepemimpinan mahasiswa menuju Periode 2026.
Tiga sosok tersebut hadir sebagai simbol penantang dalam arena demokrasi mahasiswa. Tanpa identitas yang ditampilkan, ketiganya merepresentasikan keberanian, gagasan, dan kesiapan untuk diuji secara terbuka di hadapan seluruh mahasiswa Politeknik Lamandau. Satu kursi menjadi tujuan, namun proses dan kualitas kepemimpinan menjadi pertaruhan utama.
Ketua Umum Senat Mahasiswa Politeknik Lamandau periode sebelumnya, Debby Pramana Putra, menegaskan bahwa regenerasi ini bukan sekadar kompetisi, melainkan momentum penentuan arah organisasi ke depan.
“Kepemimpinan di Senat Mahasiswa bukan tentang siapa yang paling ingin terlihat, tetapi siapa yang paling siap memikul tanggung jawab dan mengutamakan pengabdian dengan tulus. Arena ini akan menguji gagasan, integritas, intelektualitas dan moralitas serta keberanian untuk berpihak pada kepentingan mahasiswa,” tegas Debby.
Ia menambahkan bahwa pertarungan gagasan merupakan bagian sehat dari demokrasi mahasiswa, selama dijalankan dengan sportivitas dan komitmen terhadap nilai-nilai organisasi.
“Tiga sosok ini adalah penantang. Namun pada akhirnya, hanya satu yang akan dipercaya. Bukan karena ambisi, melainkan karena kualitas, totalitas dan keberpihakan,” lanjutnya.
SEMA Polilaman menilai momentum ini sebagai titik penting untuk melahirkan pemimpin mahasiswa yang progresif, berintegritas, serta mampu menjadi jembatan aspirasi mahasiswa dan mitra kritis kampus.
Kini tensi semakin meninggi.
Siapa yang akan bertahan hingga akhir?
Siapa yang layak memegang estafet kepemimpinan SEMA Polilaman 2026?
Satu kursi.
Tiga penantang.
Pertarungan telah dimulai.