Berita

Millenial Indonesia Gelar Diskusi “Alam Peudeung Sebagai Penjaga Marwah: Mengaktualisasi Alam Peudeung di Masa Kini

0

Kabarcakrawala.com – Millenial Indonesia Aceh–Jakarta menggelar diskusi bertajuk “Alam Peudeung Sebagai Penjaga Marwah: Mengaktualisasi Alam Peudeung di Masa Kini” pada Sabtu (2/5/2026) di Cilandak, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan legislator, akademisi, hingga tokoh muda Aceh untuk membahas nilai-nilai kepemimpinan dan kebudayaan Aceh di tengah tantangan zaman.

Narasumber pertama, Sudirman H. Uma, Anggota DPD RI, menegaskan bahwa Aceh telah lama dikenal hingga mancanegara. Ia menyebut Aceh memiliki sejarah panjang sebagai jalur lintas perdagangan dunia serta menjalin hubungan dengan berbagai negara besar seperti Turki, Arab Saudi, Tiongkok, dan India.

“Aceh mempunyai hubungan dagang dan budaya dengan masyarakat internasional. Namun masyarakat Aceh tidak pernah menggadaikan identitasnya. Nilai kita turun bukan karenal budaya, tetapi karena sikap dan kepribadian kita yang tidak menghargai budaya sendiri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang berwibawa dan berintegritas. Menurutnya, pemimpin harus menjadi teladan, tegas dalam mengambil keputusan bukan atas dasar kepentingan pribadi, melainkan demi masyarakat. Pemimpin harus inklusif, menjaga ukhuwah, memahami masyarakat, serta “pandai merasa, bukan merasa pandai.”

Sudirman mengingatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga marwah dan daerah. Di tengah tantangan globalisasi dan pergeseran arus budaya, prinsip dan nilai dasar tidak boleh terkontaminasi. “Menjaga Aceh berarti menjaga kolaborasi di dalamnya menjaga budaya, ritual, bahasa, dan seni,” tambahnya.

 

Narasumber kedua, Adli Abdullah, akademisi, memaparkan bahwa simbolisme Alam Peudeung melambangkan semangat Aceh yang tak pernah padam. Ia menyinggung hubungan historis Aceh dengan Turki Usmani sebagai refleksi kedaulatan dan keberanian masyarakat Aceh.

“Alam Peudeung adalah simbol kedaulatan dan keberanian orang Aceh. Namun kita tidak boleh hanya bangga secara historis, kita juga harus bangga menata masa depan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kekuasaan tanpa marwah akan kehilangan legitimasi, integritas, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat.

 

Sementara itu, narasumber ketiga, Muhammad Rafsanjani, Tokoh Muda Aceh, menyoroti tantangan kekinian berupa erosi budaya dan ketidakmampuan menyaring pengaruh budaya luar, terutama di tengah karakter Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Ia juga mengingatkan adanya berbagai penyakit sosial yang perlu diantisipasi.

Menurutnya, langkah strategis ke depan meliputi sinergi lintas elemen, penguatan karakter generasi muda, peningkatan kompetensi ekonomi, pelestarian sejarah, serta pengembangan literasi digital.

“Semangat kebangsaan dan pengabdian harus terus tumbuh. Kita harus bangga disebut orang Aceh,” ujarnya.

Ketua Umum Millenial Indonesia, Sureza Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aceh merupakan penghubung berbagai peradaban dunia. Ia menilai diskusi ini membuka khazanah baru bagi generasi muda.

“Belajar Aceh artinya belajar sejarah dunia. Dengan memahami sejarah Aceh, kita tahu betapa kuatnya Indonesia. Ketika kita bersatu, kita bisa melawan apa pun. Sebaliknya, perpecahanlah yang melemahkan kita,” katanya.

Ia menutup kegiatan dengan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan berharap diskusi tersebut dapat menambah wawasan serta memperkuat semangat persatuan dan kebangsaan.

Exit mobile version