
Lamandau — Masa pergantian kepemimpinan di Politeknik Lamandau semakin dekat, dan satu nama yang terus bergema di kalangan mahasiswa adalah Debby Pramana Putra. Dua periode ia memimpin Senat Mahasiswa, dua periode pula ia menjadi penggerak yang memulihkan, membangunkan, dan menegakkan kembali eksistensi organisasi mahasiswa yang sempat lama tidak terdengar gaungnya.
Debby dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah mengangkat dirinya sendiri. Ia selalu membalas pujian dengan senyum dan kedua tangan yang disatukan, gestur sederhana yang mencerminkan karakteristik kerendahan hatinya. Namun di balik ketenangan itu, ia bekerja tanpa henti, keringat demi keringat menghidupkan kembali kegiatan, merapikan struktur organisasi, hingga membawa mahasiswa keluar dari periode pasif menuju era yang lebih progresif.
Salah satu momen paling mencolok terjadi setelah SEMA Polilaman lama “vakum” dan tidak terlihat dalam aktivitas nasional. Di masa kepemimpinan Debby, kebangkitan itu terjadi secara cepat dan nyata.
Senat Mahasiswa Politeknik Lamandau kembali menunjukkan eksistensinya di tingkat nasional, bukan sekadar hadir, tetapi berani mengambil ruang melalui partisipasi dalam Munas dan Rakernas BEM SI — sebuah langkah simbolis bahwa Politeknik Lamandau kembali bersuara.
Selain mengembalikan eksistensi SEMA di tingkat nasional, kepemimpinan Debby juga menorehkan capaian baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di bawah arahannya, Politeknik Lamandau berhasil lolos dalam program Kemendikti Saintek: Future Leaders Camp, sebuah program pengembangan kepemimpinan bergengsi yang diikuti oleh seluruh kampus di Indonesia.
Tidak hanya membawa institusi lolos, Debby sendiri turut terpilih dan terlibat langsung dalam program tersebut, menjadi representasi mahasiswa Politeknik Lamandau di tingkat nasional. Kehadirannya dalam program ini menjadi simbol bahwa mahasiswa Politeknik Lamandau mampu berdiri sejajar dengan peserta dari kampus-kampus besar, sekaligus memperlihatkan komitmennya untuk mengangkat nama kampus melalui aksi nyata, bukan sekadar wacana.
Capaian ini menegaskan bahwa masa kepemimpinan Debby bukan hanya fase administrasi, melainkan periode kebangkitan yang membuktikan bahwa ketika totalitas dipadukan dengan kerja nyata dan tulus, maka kesempatan nasional pun akan terbuka.
Adhitya Nugroho selaku mantan direktur Politeknik Lamandau sekaligus dosen menilai bahwa masa kepemimpinan Debby adalah masa pemulihan sekaligus kemajuan. Ia mencatat bahwa SEMA kembali menjalankan peran dasarnya dengan baik: menjembatani mahasiswa dan kampus, menyusun pedoman organisasi, mengawal program kerja, dan menciptakan ruang pengembangan minat serta bakat. Pembinaan karakter memang masih perlu ditingkatkan, tetapi fondasi yang ia bangun sudah jelas dan kokoh.
Di sisi lain, dari Kristoforus — Demisioner Ketua BPM 2024 — yang mengenal Debby bukan hanya sebagai ketua, tetapi sebagai rekan seperjuangan:
“Debby bukan orang yang biasa. Anaknya memang rendah hati dan totalitas dalam bekerja. Tapi ingat, hanya orang tertentu—sekali lagi, hanya orang tertentu—yang benar-benar bisa memahami totalitasnya. Itulah mengapa banyak yang nyaman dan senang berada di sekeliling dia. Bagi saya, jika ada yang bisa menggantikan Debby, maka orang itu harus betul-betul siap. Jangan menjadi ketua yang bersifat mood-moodan apalagi hanya untuk tersorot kamera, karena itu bisa mematikan semangat mahasiswa.”
Pernyataannya seperti penegasan bahwa Debby tidak hanya menjalankan tugas administratif; ia membangun standar baru yang sulit ditiru.
Menjelang akhir masa jabatannya, pertanyaan besar pun muncul:
“Apakah penerus Debby mampu menjaga ritme, standart serta semangat yang telah ia bangun?
Atau justru akan lahir gaya kepemimpinan baru yang sepenuhnya berbeda?
Yang jelas, tantangannya tidak akan sama.
Namun dari semua pertanyaan itu, ada satu yang paling sering dibicarakan — lebih sering dari siapa penggantinya, lebih sering dari evaluasi dua periode:
Ke mana langkah Debby setelah ini?
Setelah memulihkan eksistensi organisasi…
Setelah mengangkat nama kampus hingga ke panggung nasional…
Setelah dua periode memikul tanggung jawab besar dengan tenang dan penuh totalitas…
Apa bab berikutnya yang akan ia tulis?
Hingga kini, Debby memilih diam.
Dan justru dalam diam itulah, rasa penasaran tumbuh semakin besar.
Satu masa akan segera berakhir,
tetapi cerita seorang Debby Pramana Putra jelas belum selesai.
Bahkan mungkin, bagian terpentingnya baru saja akan dimulai.
Untuk saat ini, seluruh kampus menunggu dua hal:
siapa penerusnya, dan ke mana langkah Debby akan membawa dirinya selanjutnya.