
KOTABARU, KALSEL — Momentum September Hitam yang setiap tahun menjadi ruang refleksi atas berbagai peristiwa sejarah, isu hak asasi manusia (HAM), demokrasi, dan gerakan sosial mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Wakil PC PMII Kotabaru sekaligus Wakil BEM STIT Kotabaru, M. Fathur, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan mahasiswa, untuk menjadikan momentum tersebut sebagai sarana meningkatkan kesadaran sejarah, memperkuat kepedulian terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM, serta tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Menurut Fathur, penyampaian aspirasi terkait persoalan sejarah, HAM, maupun demokrasi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang demokratis. Namun, penyampaian pendapat perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku serta menjaga ketertiban umum.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat. Mahasiswa tidak hanya dituntut kritis terhadap berbagai persoalan sosial, tetapi juga diharapkan mampu menyampaikan gagasan secara konstruktif dan mengedepankan dialog.
Fathur juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar melalui media sosial. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi dan sebaiknya disikapi melalui komunikasi yang terbuka serta saling menghormati.
“Perbedaan pendapat jangan sampai menjadi alasan untuk memecah persatuan. Mari kita kedepankan dialog, tabayun, dan penyampaian aspirasi secara damai. Kritik tetap diperlukan, tetapi kondusivitas dan persaudaraan di Kalimantan Selatan juga harus kita jaga bersama,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengajak organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat Kotabaru dan Kalimantan Selatan untuk bersama-sama menciptakan suasana yang aman dan kondusif selama momentum September Hitam.
Dengan demikian, peringatan berbagai peristiwa sejarah dan pembahasan mengenai HAM, demokrasi, serta gerakan sosial dapat menjadi momentum edukasi dan refleksi bersama, bukan justru menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
“Mari kita jadikan September Hitam sebagai momentum untuk belajar dari sejarah, memperkuat kesadaran demokrasi dan HAM, serta bersama-sama menjaga kedamaian dan kondusivitas Kalimantan Selatan,” pungkas M. Fathur.











