
Aceh – Bagaimana mungkin lada dari pantai barat Aceh membawa nama Aceh sampai ke Amerika dan Eropa? Dan mengapa perdagangan lada yang awalnya berlangsung melalui kapal-kapal dagang kemudian berubah menjadi persoalan diplomasi dan bahkan melibatkan kapal perang? Menurut saya, pertanyaan ini penting karena sejarah Aceh pada abad ke-19 tidak bisa hanya dilihat dari hubungan Aceh dengan Belanda. Jauh sebelum Perang Aceh 1873 meletus, Aceh telah terhubung dengan jaringan perdagangan dunia. Salah satu pintunya adalah lada.
Pada abad ke-18 hingga abad ke-19, pantai barat dan selatan Aceh berkembang sebagai kawasan perdagangan lada yang penting. Pelabuhan seperti Singkil, Susoh, Kuala Batu, Trumon, Meulaboh, hingga kawasan Tapaktuan menjadi tempat bertemunya petani, pedagang lokal, elite penguasa, dan pedagang asing. Lada Aceh tidak berhenti di pelabuhan-pelabuhan tersebut. Komoditas itu bergerak mengikuti jalur perdagangan internasional menuju berbagai kawasan, termasuk Penang, India, Eropa, hingga Amerika.
Di sinilah menariknya.
Amerika tidak datang ke Aceh pada awalnya sebagai kekuatan politik yang ingin menguasai wilayah. Pedagang-pedagang Amerika datang karena satu hal yang sangat sederhana: lada.
Bagi dunia perdagangan saat itu, lada bukan sekadar bumbu dapur. Ia merupakan komoditas bernilai tinggi yang dicari pasar internasional. Karena itu, pantai barat Aceh menjadi bagian dari apa yang dapat kita sebut sebagai pepper coast, kawasan yang hidup dari perdagangan lada dan terhubung dengan jaringan pelayaran internasional. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa Aceh sebenarnya bukan wilayah yang terisolasi dari dunia luar. Justru sebaliknya, masyarakat Aceh telah menjadi bagian dari arus perdagangan global jauh sebelum istilah globalisasi dikenal seperti sekarang. Yang menarik, hubungan perdagangan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada awal abad ke-19, semakin banyak kapal asing yang datang ke pantai barat Aceh untuk memperoleh lada. Amerika, Inggris, Prancis, dan pedagang yang berhubungan dengan Penang memiliki kepentingan masing-masing. Namun perdagangan berlangsung dalam situasi politik lokal yang kompleks. Kekuatan Kesultanan Aceh tidak selalu hadir secara langsung di setiap pelabuhan. Para uleebalang dan penguasa lokal memiliki peranan penting dalam mengatur perdagangan di wilayah masing-masing.
Di tengah situasi tersebut, muncul persoalan antara pedagang asing dan masyarakat atau penguasa setempat. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1831 ketika kapal dagang Amerika Friendship diserang di Kuala Batu, kawasan pantai barat Aceh. Bagi Amerika, persoalan itu tidak lagi sekadar urusan perdagangan. Responsnya sangat keras. Amerika kemudian mengirim kapal perang USS Potomac ke Aceh. Pada 1832, kapal tersebut melakukan tindakan terhadap Kuala Batu sebagai hukuman atas serangan terhadap kapal dagang Amerika.
Di sinilah sejarah lada berubah menjadi sejarah diplomasi.
Menurut saya, peristiwa tersebut memperlihatkan satu hal penting: perdagangan dan politik internasional pada abad ke-19 ternyata tidak pernah benar-benar terpisah. Pedagang datang membawa komoditas dan kepentingan ekonomi. Ketika kepentingan itu terganggu, negara di belakang mereka dapat ikut turun tangan. Dengan kata lain, kapal dagang dapat menjadi pintu masuk bagi keterlibatan negara. Namun kita juga perlu berhati-hati. Kehadiran Amerika di Aceh tidak berarti Amerika sejak awal datang untuk menjajah Aceh. Kepentingan utamanya pada fase tersebut adalah perdagangan dan perlindungan terhadap kepentingan dagangnya.
Justru yang menarik adalah posisi Aceh sendiri.
Aceh berada di tengah pertemuan berbagai kepentingan asing. Amerika mencari lada. Inggris membangun kepentingan perdagangan di kawasan. Prancis juga memiliki hubungan dengan perdagangan pantai barat. Sementara Belanda semakin melihat Sumatra sebagai wilayah yang harus berada di bawah pengaruhnya. Akibatnya, pelabuhan-pelabuhan Aceh bukan hanya menjadi tempat pertukaran barang. Ia juga menjadi ruang pertemuan kepentingan politik internasional. Lada membuat pantai Aceh dikenal oleh dunia perdagangan. Dunia perdagangan kemudian membawa kepentingan asing. Dan kepentingan asing pada akhirnya ikut membentuk dinamika politik kawasan. Namun, apakah perdagangan lada Amerika secara langsung menyebabkan Perang Aceh? Menurut saya, tentu tidak sesederhana itu.
Perang Aceh 1873 merupakan hasil dari persoalan yang jauh lebih kompleks. Ada perubahan politik internasional, kepentingan Belanda di Sumatra, hubungan Aceh dengan kekuatan asing, serta perubahan keseimbangan kekuasaan setelah perjanjian internasional seperti Perjanjian Sumatra 1871 antara Inggris dan Belanda. Akan tetapi, sejarah perdagangan lada membantu kita memahami mengapa Aceh memiliki posisi penting dalam perhatian kekuatan-kekuatan asing. Sebelum kapal perang datang membawa perang, kapal-kapal dagang telah lebih dahulu membawa dunia ke Aceh. Lada yang tumbuh di kebun-kebun masyarakat Aceh ternyata memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan. Dari pantai barat dan selatan Aceh, lada bergerak menuju pasar dunia dan mempertemukan Aceh dengan Amerika serta Eropa. Karena itu, ketika kita berbicara tentang sejarah Aceh dan dunia, kita tidak selalu harus memulainya dari perang. Kadang-kadang, sejarah global Aceh justru dapat dimulai dari sebutir lada. Dan dari sebutir lada itulah, kita dapat melihat bahwa Aceh pada abad ke-19 bukan berada di pinggir dunia.
Aceh telah menjadi bagian dari dunia.
Yang lebih menarik, hubungan itu tidak berhenti pada Kuala Batu. Perdagangan lada terus memperlihatkan bahwa pelabuhan-pelabuhan di pantai barat Aceh memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar tempat jual beli komoditas. Kajian Hasbullah, “Negeri dan Pelabuhan Lada di Aceh Barat Daya (1750-an–1870-an)” menunjukkan bahwa sejak sekitar 1789, perdagangan lada di Pantai Barat Selatan Aceh semakin ramai dan membangun hubungan dagang dengan Amerika. Lada kemudian diangkut menuju Salem dan Boston, juga ke Eropa dan Tiongkok. Artinya, masyarakat di kawasan penghasil lada Aceh pada masa itu sesungguhnya sedang berhadapan dengan pasar yang bersifat internasional. Perubahan harga di pasar dunia bahkan dapat memengaruhi ramai-sepinya kapal yang datang ke pelabuhan Aceh.
Menurut saya, di sinilah letak pelajaran pentingnya. Sejarah global Aceh bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika bangsa Eropa datang membawa kolonialisme. Jaringan global itu sudah terbentuk melalui perdagangan, pelayaran, dan komoditas jauh sebelumnya. Namun, semakin terhubung sebuah wilayah dengan dunia, semakin besar pula kemungkinan kepentingan asing masuk ke dalamnya. Pada akhirnya, lada bukan hanya menggerakkan ekonomi. Ia ikut mempertemukan Aceh dengan kepentingan Amerika, Inggris, Prancis, dan Belanda dalam ruang yang sama. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang membeli lada Aceh?