Berita

Dari Yogyakarta ke Samalanga: Apa yang Dibawa Pulang?

0
×

Dari Yogyakarta ke Samalanga: Apa yang Dibawa Pulang?

Sebarkan artikel ini
Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum - Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh
Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum – Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh

Aceh – “Untuk apa saya pulang?” Pertanyaan itu beberapa kali muncul dalam benak saya ketika meninggalkan Yogyakarta dan kembali ke Aceh. Apakah sekadar karena pekerjaan? Karena keluarga? Atau karena ada sesuatu yang lebih panjang daripada itu: sejarah yang menghubungkan saya dengan tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan?

Saya menyelesaikan pendidikan Magister Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2022-2024. Di kota itu saya belajar bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah adalah cara manusia memahami identitas, perubahan, kekuasaan, kebudayaan, sekaligus tanggung jawab terhadap masa depan.

Kini saya kembali ke Samalanga. Saya menjadi dosen tetap di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga dan dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Namun, kepulangan ini bagi saya bukan hanya perpindahan tempat dari Yogyakarta ke Aceh. Samalanga memiliki hubungan yang jauh lebih personal dengan perjalanan hidup saya. Di sinilah jejak leluhur keluarga saya berkelindan dengan sejarah panjang Aceh.

Karena itu saya sering bertanya kepada diri sendiri: apakah seseorang benar-benar pulang ketika ia kembali ke tanah leluhurnya, tetapi tidak berusaha memahami sejarah tanah itu?

Pertanyaan tersebut membawa saya kembali membaca sejumlah naskah lama.

Dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, kisah tentang pembukaan negeri Samarlanga atau Samalanga muncul jauh sebelum periode modern. Naskah itu menghubungkan kawasan tersebut dengan kisah Raja Ahmad, Raja Muhammad, Puteri Betung, Meurah Gajah, Meurah Silu dan Meurah Hasum. Terlepas dari unsur legenda yang kuat, teks ini penting karena memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu-Aceh membangun ingatan tentang asal-usul negeri dan legitimasi kekuasaan.

Beberapa abad kemudian, Samalanga kembali muncul dalam sejarah yang lebih dekat dengan tradisi Kesultanan Aceh. Nama Tun Sri Lanang menjadi bagian penting dari ingatan tersebut. Tun Sri Lanang dikenal sebagai Bendahara Johor sekaligus tokoh yang dikaitkan dengan penyusunan Sulalat al-Salatin. Naskah ini sendiri bukan hanya berbicara tentang raja-raja Melayu, tetapi juga memuat jaringan sejarah berbagai negeri di kawasan Melayu-Nusantara.

Dalam konteks Aceh, sumber mengenai Tun Sri Lanang menjadi lebih menarik. Kajian terhadap sumber lokal, sarakata, hikayat, Ma Bain-as-Salatin, sumber VOC, serta tradisi lisan menunjukkan bahwa Tun Sri Lanang mempunyai posisi penting dalam pemerintahan Aceh dan kemudian dimakamkan di Samalanga. Penelitian M. Dien Madjid juga menempatkan Tun Sri Lanang dalam perubahan sosial-politik dan perkembangan Islam di kawasan timur Aceh.

Di sinilah saya belajar bahwa sejarah Samalanga tidak dapat dibaca hanya melalui satu tokoh atau satu garis keturunan.

Ada Hikayat Aceh, yang teksnya berasal dari lingkungan Aceh sekitar masa Sultan Iskandar Muda dan memberikan gambaran mengenai politik, tradisi, kehidupan istana serta posisi Aceh dalam jaringan dunia Melayu dan Samudra Hindia. Edisi pentingnya disunting Teuku Iskandar dengan judul De Hikajat Atjeh (1958), berdasarkan antara lain manuskrip Cod. Or. 1954 di Leiden.

Ada pula Bustan al-Salatin fi Dhikr al-Awwalin wa al-Akhirin karya Nuruddin al-Raniri. Kitab abad ke-17 ini bukan sekadar kisah raja, tetapi historiografi yang menghubungkan sejarah dunia, sejarah Islam dan sejarah Aceh dengan gagasan mengenai pemerintahan dan moral kekuasaan.

Bagi saya, membaca sumber-sumber tersebut setelah pulang justru melahirkan kesadaran baru. Nasab tidak cukup untuk membuat seseorang memahami sejarah. Nasab hanya membuka pintu. Setelah pintu terbuka, seseorang harus masuk melalui penelitian, membaca arsip, menelaah naskah dan menguji ingatan keluarga dengan sumber sejarah.

Saya menyadari bahwa menjadi bagian dari sebuah garis keturunan bukanlah prestasi. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan seseorang terhadap warisan tersebut.

Karena itu, kepulangan saya ke Samalanga tidak ingin saya maknai sebagai nostalgia terhadap masa lalu. Saya ingin menjadikannya sebagai ruang pengabdian. Ilmu yang saya peroleh di Yogyakarta ingin saya bawa pulang, bukan untuk menggantikan tradisi keilmuan Aceh, tetapi untuk berdialog dengannya.

Di kampus, saya bertemu mahasiswa yang hidup dalam lingkungan dayah, tradisi Islam dan budaya Aceh. Mereka tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk memperoleh ijazah, tetapi juga cara membaca perubahan zaman tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Saya pun semakin percaya bahwa Aceh tidak kekurangan sejarah. Yang masih menjadi pekerjaan kita adalah bagaimana sejarah itu dibaca secara kritis, diteliti secara akademik dan diwariskan dengan cara yang dapat dipahami generasi muda.

Saya pulang bukan karena perjalanan saya telah selesai. Justru mungkin, kepulangan adalah awal perjalanan yang lain.

Dari Yogyakarta saya membawa pengalaman belajar dari sejarah. Dari Samalanga saya menemukan kembali pertanyaan tentang siapa diri saya dan kepada siapa ilmu itu harus diabdikan.

Pada akhirnya, tanah leluhur bukan hanya tempat untuk kembali. Ia adalah amanah untuk dipahami, dirawat dan diteruskan.

Saya berharap generasi muda Aceh tidak hanya bangga menyebut nama leluhurnya, tetapi juga mau membaca sejarahnya. Tidak hanya mengenang tokoh-tokoh masa lalu, tetapi meneruskan tradisi ilmu, pendidikan dan pengabdian mereka dengan cara yang sesuai dengan zamannya.

Sebab, barangkali makna paling dalam dari sebuah kepulangan bukanlah menemukan kembali masa lalu, melainkan membawa pelajaran masa lalu untuk menyiapkan masa depan Aceh.

Kepulangan itu kemudian membuat saya melihat Samalanga dengan cara yang berbeda. Dahulu, sebuah tempat mungkin hanya saya kenali melalui nama, keluarga dan cerita yang diwariskan. Kini, setelah belajar sejarah, saya melihat setiap sudutnya sebagai ruang yang menyimpan lapisan waktu.

Ada makam, dayah, masjid, tradisi keilmuan, nama-nama ulama dan tokoh masyarakat yang tidak boleh berhenti sebagai cerita lisan. Semuanya perlu dirawat melalui dokumentasi dan penelitian agar generasi berikutnya tidak hanya menerima warisan sejarah sebagai kebanggaan, tetapi juga memahami konteks dan nilai yang dikandungnya.

Di sinilah saya merasa ilmu sejarah memiliki tanggung jawab sosial. Sejarah tidak cukup disimpan di perpustakaan atau dibicarakan dalam ruang kuliah. Ia harus kembali kepada masyarakat sebagai pengetahuan yang membangun kesadaran.

Saya ingin kepulangan ini menjadi bagian kecil dari ikhtiar tersebut. Menjadi dosen di Samalanga berarti berada dekat dengan generasi muda yang kelak menentukan wajah Aceh. Kepada merekalah pengetahuan, tradisi dan ingatan itu akan diteruskan.

Maka, saya tidak ingin hanya dikenal sebagai orang yang pulang ke tanah leluhur. Saya ingin menjadi bagian dari generasi yang menghidupkan kembali hubungan antara ilmu, sejarah, pendidikan dan pengabdian.

Sebab tanah leluhur akan benar-benar bermakna ketika generasinya mampu menjadikannya sumber inspirasi untuk membangun masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *