Aceh

Faiez, Mahasiswa FISIP USK: Gesekan di Masjid Raya, Tidak Perlu Direspon Berlebihan

0

Muhammad Faiez Maulana, Mahasiswa FISIP USK

Banda Aceh – Tanggal 15 Agustus 2005 adalah momen MoU antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan Pemerintah Pusat yang melahirkan butir-butir amanat kesepakatan. Seiring waktu diadakan aksi simbolik atau perayaan sebagainya demi memperingati dan merawat perdamaian.

Aceh selalu memperingati hari perdamaian dengan khidmat, beberapa sumber yang ada, menyatakan bahwa momen damai ini, adalah yang terpanjang bagi Aceh. Beberapa literatur-literatur meyakini, Aceh adalah daerah ramah konflik.

Konflik tidak pernah meninggalkan Aceh dalam jangka waktu yang lama, tapi setelah MoU Helsinki, terkabul doa-doa pemerintah pusat untuk menertibkan Aceh dengan berbagai cara yang mungkin saudara tahu. berakhir masyarakat Aceh hidup 21 tahun dalam kedamaian.

Untuk menyikapi persoalan kejadian rusuh di Masjid Raya, kita tidak bisa menyalahkan masyarakat secara utuh, baik mereka yang pendatang maupun yang tinggal di kota, yang mana sejatinya mereka memiliki hak untuk bersuara di tanah serambi makkah, berandailah Pantura dan ALA meminta pisah sebab tak diberi ruang bersuara di ibukota provinsi, maka diramalkan Banda Aceh akan bankrut.

Mari kita lihat dari karakter Bangsa Aceh, memakai kacamata tengku puteh, ia mengatakan bahwa Aceh ini bangsa yang sangat memilih-milih penguasanya, dan tidak akan tunduk pada kekuasaan semu, masyarakat yang akrab dengan tuhan tidak takut di iming-imingi kemiskinan, hilangnya pamor dalam posisi publik atau lain-lain.

Untuk tahu bagaimana bangsa Aceh rela mati demi agama dan bangsa, mari kita mengetahui bagaimana cara membangkitkan semangat Bangsa Aceh dahulu, Tengku Chik Pante Kulu, dan Hikayat Prang Sabi cukup menggambarkan bagaimana mudahnya Bangsa Aceh hanya dengan hikayat mengenai bidadari yang akan didapat di surga jika mati syahid melawan kafir belanda, menciptakan kuburan kherkof peucut menjadi kuburan belanda terbesar di luar negeri belanda.

Melihat fakta historis dan melihat watak bangsa Aceh dari kacamata antropolog. dapat menjadi pembelajaran bagi pemangku jabatan yang ada di Aceh.

Awal mula kejadian tersebut dipicu dengan penurunan bendera merah putih, yang ditentang oleh Aparat. mungkin saya tidak membahas soal itu, takut saya melahirkan opini subjektif.

Akan tetapi alangkah baiknya, Bangsa Aceh ini (Masyarakat Aceh) jangan di lawan dengan kekerasan, sebab Masyarakat Aceh menjunjung harga diri yang tinggi, biarkan saja unjuk rasa itu ada, dalam butir MoU bendera menjadi hak otonom bagi Provinsi Aceh, hanya saja belum ditetapkan bendera apa, apakah bintang bulen atau alam peudeng. Apa saja boleh.

Tulisan ini saya tulis atas opini salah satu pejabat publik kota Banda Aceh, dalam menyikapi persoalan 15 agustus tempo hari. Sebab tertib tidak selalu sejahtera, tertib identik dengan sentralistik dan militerisme. Sebagai Mahasiswa saya rasa tidak elok memakai kata tertib, maupun ketertiban, tidak akan masyarakat unjuk rasa jika sejahtera.

Aceh

  *Aksi Simbolik & Diskusi Publik: Aceh Pascabencana…

Exit mobile version