BeritaJawa TengahNasionalSosial Budaya

Musim Tak Menentu, Dinas Kesehatan Surakarta Perkuat Pencegahan Kasus DBD

×

Musim Tak Menentu, Dinas Kesehatan Surakarta Perkuat Pencegahan Kasus DBD

Sebarkan artikel ini

 

Surakarta — Perubahan cuaca yang tidak menentu belakangan ini berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Surakarta. Menyikapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surakarta menegaskan komitmennya untuk memperkuat langkah pencegahan melalui berbagai program strategis berbasis partisipasi masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Surakarta, dr. Retno Erawati Wulandari, menjelaskan bahwa tren kasus DBD hingga Agustus 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024. Namun, bila dibandingkan dengan tahun 2023, kasus DBD sempat meningkat pada 2024 sebelum akhirnya kembali turun di tahun ini.

“Hingga Agustus 2025, jumlah kasus DBD masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena pola cuaca yang tidak menentu sangat memengaruhi siklus perkembangbiakan nyamuk,” jelasnya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Surakarta, Senin (25/8/2025).

Menurutnya, salah satu upaya penting dalam pencegahan adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, ditambah tindakan preventif lain seperti menggunakan kelambu saat tidur, memakai pakaian lengan panjang, menggunakan lotion anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta abatisasi selektif di tempat yang sulit dijangkau.

 

dr. Retno Erawati Wulandari

Selain itu, Dinkes Surakarta juga mengandalkan laporan jumantik (juru pemantau jentik) yang aktif di tiap kecamatan dan kelurahan. Laporan ini dikumpulkan dari kader kesehatan, masyarakat, hingga anak sekolah, lalu diteruskan ke puskesmas setempat lalu dihimpun setiap Senin oleh Dinkes.

Keterlibatan masyarakat disebut menjadi kunci penting dalam pengendalian DBD. Masyarakat Surakarta tidak hanya dilibatkan dalam kegiatan pemberantasan jentik, tetapi juga didorong untuk mandiri menjaga kebersihan lingkungan. Program khusus juga digalakkan dengan melibatkan anak-anak sekolah untuk melakukan pemeriksaan jentik di lingkungan rumah maupun sekolah, kemudian melaporkannya kepada guru untuk diteruskan ke puskesmas.

“Dengan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, kami berharap penyebaran DBD bisa ditekan, meskipun cuaca tidak menentu. Edukasi dan kebiasaan menjaga lingkungan bersih harus terus ditanamkan, terutama bagi generasi muda,” pungkas dr. Retno Erawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *