BeritaJawa Tengah

Investasi Gizi Sebagai Fondasi Generasi Emas Bangsa

×

Investasi Gizi Sebagai Fondasi Generasi Emas Bangsa

Sebarkan artikel ini

Surakarta – Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini menghadapi pertanyaan fundamental: bagaimana memastikan bahwa bonus demografi yang akan datang benar-benar menjadi keuntungan, bukan beban? Jawabannya terletak pada investasi yang dimulai dari hal paling mendasar—memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan gizi memadai.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi manifestasi konkret dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan sila kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam kurun kurang dari satu tahun, program ini telah menjangkau sekitar 20 hingga hampir 30 juta penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui di seluruh Indonesia. Capaian ini bukan sekadar angka statistik, tetapi wujud upaya sistematis agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal akibat keterbatasan ekonomi keluarganya.

Dampak program tersebut terlihat nyata di lapangan. Tingkat kehadiran siswa meningkat signifikan, disertai perbaikan prestasi belajar. Selain itu, MBG telah menciptakan 290 ribu lapangan kerja baru dan melibatkan sekitar satu juta petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM dalam rantai pasokannya. Peredaran ekonomi lokal pun bergerak hingga desa-desa berbagai provinsi, menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program sosial, melainkan strategi pembangunan yang multidimensi.

Keberhasilan Indonesia dalam memperluas cakupan MBG tercapai jauh lebih cepat dibandingkan negara lain, seperti Brazil yang memerlukan 11 tahun untuk mencapai jumlah penerima serupa. Dalam waktu singkat, Indonesia mampu membangun 5.800 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di 38 provinsi sebagai hasil koordinasi lintas lembaga antara pemerintah pusat, TNI, Polri, ormas keagamaan, koperasi, dan yayasan. Kecepatan ini menunjukkan kemampuan negara menggerakkan sumber daya secara masif demi mempercepat perbaikan kualitas SDM.

Program MBG sejalan dengan visi Asta Cita, terutama misi pertama tentang pengokohan ideologi Pancasila dan misi kelima tentang pembangunan sumber daya manusia. Dalam kerangka Pancasila sebagai paradigma pembangunan, program ini menghadirkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, serta antara peran manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Dengan pemerataan akses makanan bergizi dari wilayah 3T hingga kota-kota besar, pemerintah memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.

Filosofi program MBG juga berangkat dari kesadaran bahwa keadilan sosial tidak mungkin terwujud apabila akses terhadap kebutuhan dasar masih timpang. BPS mencatat bahwa hampir separuh pengeluaran rumah tangga Indonesia masih terserap untuk kebutuhan pangan, sehingga menimbulkan beban tidak proporsional bagi keluarga berpenghasilan rendah. Melalui MBG, pemerintah meringankan beban tersebut dan menghapus potensi diskriminasi sosial di sekolah akibat ketimpangan kemampuan ekonomi.

Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan bahwa MBG adalah investasi terbaik sebuah bangsa. Pernyataan ini didukung fakta empiris bahwa program semacam ini memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas SDM. Target MBG pun sangat ambisius: menjangkau 82,9 juta penerima pada akhir 2025 dan mencapai cakupan 100 persen pada 2029. Dengan perluasan ini, program MBG benar-benar menjadi pilar pembangunan SDM unggul yang akan menentukan kualitas generasi Indonesia pada 2045.

Di balik angka-angka tersebut, MBG memuat filosofi mendalam tentang peran negara dalam memastikan kesejahteraan rakyat. Program ini menghadirkan negara hingga ke meja makan anak-anak sekolah dan membuktikan bahwa komitmen konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya slogan, melainkan langkah nyata. Dana MBG yang disalurkan untuk pembelian bahan pangan lokal juga menciptakan multiplier effect, meningkatkan peredaran uang di desa hingga delapan miliar rupiah per tahun per desa—menggerakkan ekonomi dari akar rumput.

Program ini juga memainkan peran penting dalam menurunkan angka stunting, yang masih menjadi tantangan nasional. Dengan memastikan asupan gizi yang memadai sejak dalam kandungan hingga usia sekolah, MBG berupaya memutus siklus malnutrisi yang menghambat kualitas generasi muda. Anak-anak yang tumbuh dengan gizi optimal memiliki daya tahan tubuh kuat, kemampuan kognitif tinggi, serta potensi produktivitas maksimal di masa depan.

Dalam konteks ketahanan pangan nasional, MBG mendorong peningkatan produksi pangan lokal. Pembukaan dua juta hektare sawah baru di Kalimantan, Sumatera, dan Papua merupakan langkah strategis menuju swasembada pangan. Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi secara lokal, kedaulatan pangan bangsa semakin kuat dan ketergantungan impor dapat ditekan.

Keberhasilan MBG tidak terlepas dari sinergi seluruh elemen bangsa: pemerintah pusat dan daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal. Penerimaan masyarakat yang luas, termasuk di wilayah terpencil seperti Papua, menunjukkan bahwa MBG bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan bersama untuk membangun generasi emas bangsa.

Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan fondasi yang kokoh—dan fondasi itu dimulai dari generasi yang sehat dan cerdas. Ketika setiap anak memiliki akses yang sama terhadap makanan bergizi, ketika tidak ada lagi murid yang belajar dalam kondisi lapar, ketika kesenjangan gizi tidak lagi menjadi penghalang mobilitas sosial, maka misi keadilan sosial Pancasila benar-benar terwujud.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar tentang pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi tentang menciptakan masyarakat yang sehat, cerdas, berkarakter, dan sejahtera. Program MBG adalah investasi jangka panjang yang dampaknya baru akan terlihat pada 2045—ketika anak-anak yang hari ini menerima makanan bergizi tumbuh menjadi pemimpin, profesional, dan inovator bangsa. Dengan semangat Pancasila sebagai penuntun, MBG menjadi bukti bahwa pembangunan berkeadilan bukan lagi mimpi, tetapi realitas yang sedang dibangun hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *